Posts

Yang Patah (kan) Tumbuh, Yang Hilang (kan) Berganti

Aku memulai ceritaku dengannya 1 tahun yang lalu di bulan Juli. Awalnya biasa saja karena aku tak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Kemudian mengenalnya tumbuhlah rasa kagum itu. Kagum, belum sampai cinta. Sampai sekarang jika aku ingat kembali sepertinya benih cinta itupun belum tumbuh. Pertanyaan pertamaku padanya karena sebuah games "kenali temanmu". Instingku bermain pada pertanyaan nomor 16. "Kamu punya sosmed ngga?", tanyaku. "Ngga ada sosmed sama sekali" "Tanda tangan disini ya" kataku sambil menunjuk kotak nomor 16. Aku tersenyum. Satu poin plus untuknya karena sangat jarang di jaman sekarang ada orang sama sekali tidak punya akun sosial media. Percakapan-percakapanku dengannya semakin menambah kekagumanku. "Aku biasa nyuci baju sendiri" "Kakakku juga satu almamater tapi dia sudah kerja di Sumatera, aku ngga mau satu instansi sama kakakku karena nanti bersaing karir, biarlah aku disini aja" ...

The Untold Story: Prolog

Aku dilahirkan ke dunia, tapi aku belum tau bagaimana rasanya menghirup udara pertama kali membuka mata. Aku mengerti maksud Tuhan memberikanku seorang malaikat, tapi aku tak yakin dia mau disebut malaikat karena malaikat terlalu sempurna untuknya. Aku tahu ada seorang pahlawan yang selalu mendampingiku ketika aku lahir, tapi apa dia tetap boleh disebut pahlawan kala memilih pergi ditengah pertempuran? Mungkin dia memang tidak mau disebut pahlawan. Aku ingin merasakan kebahagian mutlak, tapi tak seorangpun didunia ini mengerti ukurannya. Aku akan menjadi dewasa kala usiaku bertambah, aku bertanya-tanya seperti apa rasanya menjadi dewasa? Apakah itu menyenangkan? Lalu mengapa mereka yang telah dewasa justru lebih banyak murung? Aku mampu merasakan cinta, tapi aku tak tahu arti cinta. Cinta..cinta..cinta..ah bayanganku hanyalah secarik kertas abu-abu. Aku mengerti Tuhan pasti menciptakan makhluknya penuh dengan kebaikan, tapi mengapa mereka lebih sering berbuat keburukan? Apakah it...

Senja Yang Tertawan

Senjaku tak pernah manis Senjaku selalu dalam dilema Senjaku hanya kuraih dalam angan memori tertangkap dua bola mataku Senjaku yang tertawan Senjaku kala angin berdesir Inginku angin berbisikan namanya Namun yang kudengar hanya pertanda ku harus segera pulang Senjaku yang tertawan dibalik puncak kelabu Senjaku yang akan kembali pulang Mengingatkanku akan hari esok, esoknya lagi dan masa depan Kemudian menghilang tergantikan sang malam pekat Jikalau suara paling merdu di bumi adalah ombak, maka kau adalah wajah bumi paling menawan, senjaku yang selamanya selalu tertawan

Perjalanan, kataku

Aku lahir ke dunia tanpa tahu dimana tempatku, siapa aku, siapa orang tuaku, siapa saudaraku. Kemudian aku mulai mengenal mereka, aku belajar tengkurap, merangkak, berjalan sampai aku mampu berlari. Hidupku, ya akupun belum tau alasanku dilahirkan didunia ini. Aku hidup dan aku harus mampu bersyukur atas setiap hela napas yang aku hirup. Kemudian aku berkembang, ya tetapi aku tetap belum tahu alasan aku berada disini. Mereka membekaliku banyak pelajaran tapi tetap aku yang mampu memutuskan kemana aku melangkah. Kadang sadar atau tidak, suatu keputusan memang datang dengan alasan yang jelas tapi seringnya datang tanpa alasan kemudian pergi tanpa sepatah kata. Hampir tiga windu aku bernapas seringkali aku berpikir untuk memutus napas ini. Karena aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Jalanku panjang, seperti yang lainnya. Ketika energi masih ada aku mampu berlari. Ketika energiku menipis aku berjalan. Kadang aku berhenti untuk mengatur napas. Jalanku panjang, seperti yang lainnya...

Rain

I love rain. Sometimes I hate rain. I hate rain when I was outside. I love rain when I was inside while I enjoyed my cup of tea. Relaxing. I love rain how it falls to earth, repeatly. It always come back to earth, fall again, hurt again. One lesson I get from rain that it always be brave to fall again againts of its hurt. If compared to love, rain show us that pure love knows how to sacrifice