Perjalanan, kataku

Aku lahir ke dunia tanpa tahu dimana tempatku, siapa aku, siapa orang tuaku, siapa saudaraku. Kemudian aku mulai mengenal mereka, aku belajar tengkurap, merangkak, berjalan sampai aku mampu berlari.
Hidupku, ya akupun belum tau alasanku dilahirkan didunia ini. Aku hidup dan aku harus mampu bersyukur atas setiap hela napas yang aku hirup.
Kemudian aku berkembang, ya tetapi aku tetap belum tahu alasan aku berada disini.
Mereka membekaliku banyak pelajaran tapi tetap aku yang mampu memutuskan kemana aku melangkah.
Kadang sadar atau tidak, suatu keputusan memang datang dengan alasan yang jelas tapi seringnya datang tanpa alasan kemudian pergi tanpa sepatah kata.
Hampir tiga windu aku bernapas seringkali aku berpikir untuk memutus napas ini. Karena aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.
Jalanku panjang, seperti yang lainnya. Ketika energi masih ada aku mampu berlari. Ketika energiku menipis aku berjalan. Kadang aku berhenti untuk mengatur napas.
Jalanku panjang, seperti yang lainnya.
Jarang ada yg mulus, seringkali banyak batuan, pasir dan kerikil. Kadang diterpa panasnya matahari, kadang hujan badai. Meski kadang pelangi datang, tapi itu hanya sesaat.
Jalanku panjang, seperti yang lainnya.
Kadang kutemui cabang yang membuatku harus memilih kemana aku pergi. Aku sering memilih ke kanan karena menurutku kanan pilihan yang baik. Tetapi pilihanku kadang tak sesuai harapanku. Banyak jalan berlubang, banyak jalan tergenang air, kadang aku terjatuh dan terluka. Seketika aku masih kuat berdiri aku tetap melanjutkan perjalananku. Jika lukaku terlalu parah aku harus berhenti sejenak.
Sekarang jalan yang kulalui lebih baik, jarang ada lubang, jarang ada genangan, jarang ada batuan. Tapi jalanku kosong tak satupun pohon rindang. Aku berjalan sendiri dibawah teriknya matahari. Masih adakah tempat berlindung itu? Berapa lama lagi aku harus berjalan untuk sampai padamu?
Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Tapi aku akan tetap berjalan. Karena jika aku berhenti, sampai kapan aku dapat menggapaimu?

Comments

Popular posts from this blog

Yang Patah (kan) Tumbuh, Yang Hilang (kan) Berganti

The Untold Story: Prolog

Senja Yang Tertawan