Yang Patah (kan) Tumbuh, Yang Hilang (kan) Berganti

Aku memulai ceritaku dengannya 1 tahun yang lalu di bulan Juli. Awalnya biasa saja karena aku tak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama.
Kemudian mengenalnya tumbuhlah rasa kagum itu. Kagum, belum sampai cinta. Sampai sekarang jika aku ingat kembali sepertinya benih cinta itupun belum tumbuh.
Pertanyaan pertamaku padanya karena sebuah games "kenali temanmu". Instingku bermain pada pertanyaan nomor 16.
"Kamu punya sosmed ngga?", tanyaku.
"Ngga ada sosmed sama sekali"
"Tanda tangan disini ya" kataku sambil menunjuk kotak nomor 16. Aku tersenyum. Satu poin plus untuknya karena sangat jarang di jaman sekarang ada orang sama sekali tidak punya akun sosial media.
Percakapan-percakapanku dengannya semakin menambah kekagumanku.
"Aku biasa nyuci baju sendiri"
"Kakakku juga satu almamater tapi dia sudah kerja di Sumatera, aku ngga mau satu instansi sama kakakku karena nanti bersaing karir, biarlah aku disini aja"
"Piring dan gelasku cuma satu. Hatiku juga cuma satu, jadi nanti seseorang yang bisa memenangkan hatiku pastilah orang yg sudah mantap aku pilih"
Kemudian pertemanan ini sempat berlanjut sampai suatu hari dia menjauh. Kami sama-sama sibuk dan tak ada satupun dari kami yang mau mencoba memulai lagi.
Pertemuan kedua ku dengannya menimbulkan tanda tanya besar bagiku karena dia tak membalas sapaanku. Yasudah aku memilih mundur saja. Aku perempuan, tak sepantasnya terus memaksa perasaan orang. Tapi aku tak pernah lupa untuk tetap menyelipkan namanya di setiap doaku. Aku pasrahkan saja kepada Tuhan.
Waktu demi waktu berlalu sampai akhirnya aku dipertemukan lagi dengannya. Dia menyapaku duluan lalu kami bersalaman. Aku cukup terkejut ketika melihat sekejap di jari manisnya sudah melingkar sebuah cincin. Ya, sudah ada seseorang yang terikat dengannya.
Aku tersenyum. Dalam hati aku mengucap "Alhamdulillah" akhirnya dia sudah mantap memilih seseorang yang akan memiliki hatinya. Kecewa, tidak. Aku tidak kecewa karena Tuhan ternyata secepat ini menjawab doaku. Artinya Tuhan menunjukkan padaku untuk berhenti mengharapnya, untuk terus berusaha tetap berdoa. Tuhan masih ingin mendengar doa-doaku yang lain.
Peristiwa itu adalah jawaban dari Tuhan, jawaban teka-teki yang selama ini aku harap. Semoga kamu selalu bahagia dengan pilihanmu, kataku dalam hati.
Petualanganku masih panjang, tapi bolehkan rasa kagum ku ini tetap aku simpan?

Comments

Popular posts from this blog

The Untold Story: Prolog

Senja Yang Tertawan